MENGENAL SOSOK ROY GENGGAM POTRET SANG PUJANGGA


                              "ROY GENGGAM POTRET SANG PUJANGGA "

                                     Di tulis dan foto oleh : DJUNAEDI MARGIJANTO
                                    Pimpinan LPK FOTOGRAFI ANUGRAH MADIUN




  Ibarat "PADI ' itulah sosok Roy Genggam yang saya kenal..
  " Semakin tinggi ilmu nya semakin merunduk " begitu pepatah jawa mengatakan .
  Pertemuan kami berawal dari permintaan teman teman FAFI ( Perkumpulan Profesi Fotografer Indonesia ) untuk menghadirkan Master Fotografi Komersial Indonesia Mas Roy Genggam. Berbekal dari Facebook Beliau ,saya mengontak untuk kesediaan Mas Roy Genggam  menjadi nara sumber pada acara The Annual Metting FAFI ke 8 thn. di Madiun dan Beliau menyatakan kesanggupannya .
Beliau hadir bersama 5 orang kalau tidak salah yaitu : Mas Roy Genggam,putranya Akbar,Wahyu Dian,Mas Haryono,Mas Tatang S.


21 Oktober 2016 Rombongan naik kereta api turun di Stasiun KA Madiun Kota..pukul 05.00 WIB, kemudian rombongan Mas Roy Genggam saya ajak untuk mampir dulu di gubuk saya Studio Foto Anugrah Jl.Telasih 23 Kota Madiun,Itulah awal pertemuan kami sangat mengesankan penuh kesedarhanaan. dan tutur kata yang sangat sopan,beberapa logat jawanya cukup familier,walau Mas Roy orang kota.Sekitar 3 jam  rombongan   istirahat sembari  menikmati kopi dan jajanan ndeso  yang kami suguhkan.Tidak ada kesan kecapeaan atau ngantuk semua sangat antusias dalam kelakar dan guyonan ringan bincang masalah fotografi dengan segala keragamannya.Terutama Kang Wahyu Dian ternyata yang banyak tanya bak seperti polisi mengintrogasi pesakitannya.Ternyata baru tau kemudian klu Mas Wahyu salah satu pengurus APFI Pusat dan nama saya sempat muncul di majalah bulanan APFIMAGZ edisi ke 2 bulan april 2017. ( Matur nuhun Kang Wahyu Dian)



 Setelah rombongan rehat untuk mandi dan menikmati kopi pahit kami, tidak afdol rasanya kalau sampai madiun tidak menikmati sarapan pagi SEGO PECEL PINCUK khas Madiun. maka rombongan kami ajak untuk menuju warung sego pecel YU GEMBROT di daerah pasar besi Njoyo Kota Madiun.


           Kesan pertama yang saya tangkap dari obrolan Mas Roy dkk. Pecel madiun memang beda dan luar biasa.walau di jakarta ada yang jual nasi pecel tapi sangat beda sekali dengan pecel Madiun.Saya tanya apa bedanya :
   - Tempat dan propertinya
   - Penjualnya sangat khas dengan logat jawanya ,santun dan grapyak sumanak ( ramah penuh kekeluargaan ) dalam menyambut pembelinya.
   - Rasa sambalmya sudah beda,sayurannya,lauknya, tidak ketinggalan rempeyek  sama krupuk lempeng khas madiun yang renyah dan gurih.
   - Masalah harga sangat murah ,7 Orang gak lebih dari 150 rb..
Pastinya Mas Roy dkk.pengin kapan kapan lagi bisa menikmati pecel Madiun.

 Setelah cukup menikmati rasa dan susana pecel land madiun,tidak saya sia siakan kehadiran Mas Roy dkk untuk selanjutnya saya ajak untuk  menikmati susana pedesaan dan pegunungan di lereng gunung wilis ,tepatnya wisata Monumen Keganasan PKI Madiun  Ds.Kresek Kecamatan Wungu Kab. Madiun Jawa Timur.





    Seperti seorang Guide saya lebih banyak memberikan informasi  dan penjelasan dari berbagai tempat yang dilewati termasuk karakter warga ,budaya ,history dan destinasi wisatanya.
Monumen kresek selain tempat wisata juga sekaligus sebagai sarana Edukasi sejarah anak bangsa dimana perjuangan para Pahlawan Kemerdekaan RI di dalam mempertahankan Kemerdekaan RI dengan segenap jiwa raga.Keganasan PKI Madiun adalah bukti otentik yang banyak melakukan pembunuhan dengan kejamnya kepada Tokoh Agama,Tokoh Masyarakat,Guru,Tentara,Polisi dll. Yang di implementasikan dalam sebuah monumen dan  relief perjuangan TNI dan Warga dalam menumpas pemberontakan PKI  di madiun khususnya.
Saya masih ingat betul sekitar tahun 1991 saya mengikuti perjalan Tim dari Pemkab Madiun ke Yogjakarta mengambil patung dan relief nya,sebagai juru shooting saat itu saya bawa kamera video Panasonic  VHS 3000.dari proses pemasangan di lokasi monumen kresek Madiun sampai  peresmian Monumen  oleh Bapak Gubernur Jawa Timur saya yang mengabadikan.
Setelah di rasa cukup rombongan saya ajak untuk menikmati makan siang khas pedesaan nasi tiwul,ikan asin,sayur lodeh pedas dan Es Degan / kelapa muda,semua sangat menikmati suasana makan dan keindahan alamnya lereng Gunung Wilis.
Saya lihat Mas Roy dan Akbar yang  sangat antusias memotret moment,tempat,karakteristik,dan intensitas kehidupan warga sekitar.saya gak berani banyak tanya apa saja yang telah di potretnya.

 Tepat pukul 13.00 WIB Rombngan harus turun lagi ke Kota Madiun karena saya sudah menyiapkan acara selanjutnya.Yaitu sebelumnya saya mengontak sebuah stasiun TV swasta terkenal di Jatim yaitu JTV Madiun untuk melakukan siaran tunda tayang bertajuk FOTOGRAFI DI  ERA DIGITAL bersama Fotografer Nasional ROY GENGGAM.sengaja saya tidak memberi tahu Mas Roy biar surprise begitu.Jam 14.00 WIB menuju lobi SUN HOTEL Madiun tempat shooting dan ternyata sudah di tunggu oleh Crew dan penyiar JTV Madiun.




        Lumayan banyak pertanyaan yang disampaikan oleh presenter kepada Mas Roy dan Mas Roy banyak memberikan ulasan,gambaran dan memberikan motivasi kepada  generasi muda untuk lebih giat belajar di era digital ini khususnya di bidang Fotografi dan peluang usaha,bisnis.market,art fotografi dll.Acara ini di kemas dalam Bincang Pagi bersama Roy Genggam Fotografer Professional Indonesia pada hari minggu pagi di JTV Madiun.
Setelah hampir satu jam pelaksanaan shooting di Sun Hotel Madiun bersama JTV Madiun,Rombongan langsung menuju lokasi acara The Annual Metting FAFI ke 8 di lereng gunung wilis tepatnya area Perkebunan kopi Kandangan Kare Kab.Madiun sekitar 20 KM dari kota Madiun.


                   Sampai di lokasi langsung di suguhi Hunting Kebersamaan  dengan  menghadirkan 6 Model sebagai obyek sasaran tembak peserta The Annual Metting FAFI Ke 8 di Perkebunan Kopi Kandangan Madiun yang di hadiri oleh lebih dari 300 FG dari berbagai daerah dari Jatim & Jateng Acara ini juga  di hadiri oleh KETUM APFI Pusat  Bpk.Riadi Rahardja sekaligus digunakan untuk Sosialisasi sertifikasi fotografi di wilayah Jatim.Suasana yang penuh keakraban dan kekeluargaan yang sangat luar biasa dari semua peserta.Mas Roy sendiri sangat apresiasi dan inilah satu satunya Komunitas Fotografi yang lain dari yang lain dan mengemas acara pertemuan Tahunan yang spectakuler.

Tidak lupa Mas Roy dkk juga ikut meramaikan Hunting ini.Suasana sore yang cerah ,pemandangan SUNSET dan dinginnya lereng pegunungan Wilis menambah kenangan indah yang tak terlupakan.
Sosok Mas Roy Genggam ini juga luar biasa walau Beliau Fotografer papan atas dengan Brand Nasional tidak memperlihatkan kelebihannya..Beliau dan rombongan sangat akrab dengan peserta ,menjawab pertanyaan dari peserta dan  sesekali bercengkrama dengan peserta / Anggota FAFI dengan gaya yg sopan,santun dan tidak pelit dalam berbagi ilmu fotografi menambah suasana yang penuh keakraban dan kekeluargaan.



         Pada malamnya Mas Roy Genggam Menyampaikan meteri " KOMERSIAL FOTOGRAFI "
  dihadapan sekitar 350 Fotografer  peserta The Annual Metting FAFI ke 8 yang dihadiri juga oleh Bpk.Agam Assisten III Pemerintah Kabupaten Madiun.


    Sangat inspiratif materi yang disampaikan oleh Mas Roy dan Team tentang Komersial Fotografi
dimana dari semua peserta yang hadir ini semua adalah Fotografer Wedding sehngga bisa menambah wawasan dan knowladge peserta tentang fotografi.Kolaborasi Komersial dan Wedding Fotografi ini
menjadi inspirasi peserta untuk lebih banyak mendalami dan belajar lagi di bidang fotografi agar bisa mempunyai nilai lebih dari hasil yang di dapat untuk lebih bisa menambah kesejahteran FG.
Setelah acara penyampaian materi masih dengan sabar menjawab pertanyaan secara personal Mas Roy dan Team sesekali juga mengupas tuntas bukunya " MEMOTRET PEMOTRET " dan Juga Kaos nya.tidak pakai  lama buku dan koas yang di bawa terjual habis karena antusias peserta untuk lebih mengetahui dari isi bukunya.
Dan tidak lupa masih dilanjut  gobrolnya  ditemani kopi pahit dan jajanan khas ndeso bersama teman teman panitia sampai tengah malam,kemudian rehat bersama dinginnya malam gunung Wilis sangat mengesankan.


Paginya dilanjut dengan sebuah acara nyleneh lain yaitu SENAM AEROBIC pagi bersama semua peserta yang di pimpin oleh 2 orang instruktur senam aerobic menambah suasana SUNRICE yang begitu happy dan mengesankan  banget.


     Mas Roy dan Pak Riadi juga tidak ketinggalan ikut bersenam ria ,nampak begitu antusias mengikuti acara demi acara dengan penuh suka cita. kemudian dilanjut dengan sarapan pagi
khas pengunungan.
    Setelah peserta Sarapan pagi dilanjut dengan Hunting Budaya yaitu kesenian Reog Ponorogo
dan Seni Pertunjukan DUNGKREK sebuah kesenian khas dari Kabupaten Madiun.Hunting ini di ikuti semua peserta.Hunting budaya ini di persembahkan panitia sebagai wujud kepedulian Komunitas Fotografer ( FAFI ) mengangkat dan memperkenalkan budaya lokal kepada peserta dengan harapan bisa menjadi sarana promosi Destinasi Pariwisata Daerah khususnya Kabupaten Madiun.



                                                 Hunting Budaya " REOG PONOROGO "



   
                                          Hunting Budaya : SENI DUNGKREK MADIUN"





            Sebelum acara selesai Mas Roy dkk  foto bareng dulu dengan semua peserta.Yang jelas selama 2 hari bersama peserta sangat mengesankan baik acara,tempat,hidangan dan keakraban semua peserta dalam wadah FAFI ( Forum Komunikasi Asosiasi Fotografer Indonesia )  saangat luar biasa.

Kemudian sore hari Rombongan Mas Roy dkk saya ajak turun kembali ke kota dan menginap di sebuah hotel untuk istirahat setelah 2 hari mengikuti jadwal yang sangat padat.


                             Basecame Sekretariat FAFI / Studio Foto ANUGRAH
                                      Jl.Telasih 23 Kota Madiun Jawa Timur

Paginya Mas Roy dan Rombongan saya ajak keliling kota Ponorogo untuk melihat dari dekat industri Reog Ponorogo.Rombongan saya jemput dari Hotel pukul 08.00 WIB menuju arah selatan menuju kota Ponorogo. Dalam perjalan kami banyak ngobrol dengan Mas Roy tentang foto,dan kehidupan.
Saya baru tau klu ternyata Mas Roy adalah seorang pujangga.beberapa karya fotonya di beri CAPTION  syair yang pastinya ungkapan perasaan yang lekat dengan konsep fotonya..Itu salah satu yang  saya tangkap dan kita banyak juga  sharing tentang perjalanan hidup.
sampai di ponorogo rombongan di jemput Mas Johan Nopi selaku GUIDE yang juga Sekjend FAFI.

Rombongan Mas Roy di ajak ke Industri Reog Ponorogo untuk mengetahui banyak hal tentang Reog Ponorogo dan Special saya Hadiahkan Baju Penadon Warok Ponorogo kepada Mas Roy biar selalu terkenang dengan kebersamaan ini.

    Setelah itu Rombongan saya ajak untuk menikmati Sate H.Tukri khas Sate ayam ponorogo yang cukup terkenal sampai di luar kota Ponorogo.
Kemudian Rombongan Kami ajak untuk menuju Telaga Ngebel Ponorogo ,tepatnya juga di lereng gunung Wilis sebelah selatan. cukup lama juga menikmati suasana pegunungan dan telaga.




                           Senja dingin
                          Hujan tanpa angin
                         Secangkir kopi jahe coba hangatkan diri
                         Haru semakin dalam
                         Waktu memaksa berpisah,
                          kapan jumpa lagi yang tau hanya Dia
                         Senja semakin dingin
                         Arah bisa berbeda,
                         tapi kebersamaan akan tetap ada,
                        di sini, di dada ini.

                                     (24/10/2016)
———————————————————
Camera: Fujifilm X-T1.
Lens: Fujinon 16mm 1:1.4 R WR.
WB: Auto.
ISO: 200.
Shutter speed: 1/180s.
Aperture: f/13.
Lighting: available light.



 Setelah senja Rombongan kembali ke Bascame Anugrah Jl.Telasih Madiun  untuk persiapan Pulang ke Jakarta .Dan sebelum pulang berkenan foto dulu dengan keluarga kami.




      Alhamdulillah.Pertemuan yang sangat mengesankan bagi keluarga kami.Isrti anak  saya
 Arrum,Habiib dan Yusuf Ari..semoga menjadi berkah untuk kami sekeluarga..
         Semoga menjadi inspirasi bagi kami keluarga besar FAFI untuk Fotografi Indonesia
                            JAYA....SEJAHTERA...BERMARTABAT..

                                                                                          Madiun, 18 Mei 2020
  

0 Comments